Cek, Ini Plus Minus Simokul Pandangan Dosen dan Mahasiswa !

0
113

Inovasi kembali dilakukan Universitas Tidar demi mewujudkan visi universitas dalam mengembangkan teknologi. Inovasi tersebut dikemas dalam bentuk SIMOKUL kepanjangan dari Sistem Monitoring Kuliah. Seperti namanya, sistem ini mengatur proses pembelajaran secara keseluruhan yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa. Fitur yang terdapat dalam SIMOKUL antara lain kelas, jadwal mengajar, rekap dosen, dan RPS. Sistem yang baru digunakan pada semester ganjil tahun ajaran 2017/2018 ini membuat dosen dan mahasiswa lebih tertib dan disiplin dalam pengadministrasian kuliah.

“Satu kata untuk SIMOKUL, Modern!” kata Eko Juliyanto, M.Pd. salah satu dosen Prodi Pendidikan IPA FKIP. Melalui sistem ini membuat mutu dari pelaksanaan kuliah menjadi terjamin. Dosen diwajibkan untuk membuat Rencana Pembelajaran Semester (RPS) sebelum mengawali proses pembelajaran selama satu semester dan diunggah dalam sistem. Jika RPS tidak diunggah dalam sistem, perkuliahan tidak dapat dilaksanakan. RPS untuk satu matakuliah harus sama meskipun diampu oleh dosen yang berbeda. “Saran saja sih, saat upload RPS kalau bisa ya di-simple-kan lagi, misalnya dalam satu dokumen word sudah langsung bisa terbaca sistem. Kalau memasukkan per item seperti kemampuan yang diharapkan, bahan kajian, waktu, evaluasi dan itu selama 14x pertemuan kan cukup memakan waktu, padahal kita sudah buat disesuaikan format yang sama juga dalam bentuk tabel. Namun kalau dilihat sisi positifnya ya kita jadi bisa lebih teliti saat meng-input sekaligus bisa dibaca ulang dan diedit kembali,” tambahnya.

Di lain pihak, Molas Warsi, M.Pd. dosen Prodi PBSI FKIP ini berpendapat bahwa inovasi yang dilakukan Untidar membuatnya bersaing dengan universitas lain terkait program dan sistem yang baru dengan monitoring kuliah. Selain itu jika diamati secara mendalam ada banyak kemudahan saat menerapkan SIMOKUL. “Namanya sistem baru ya masih ada beberapa kekurangan, misalnya saja saat perkuliahan dilaksanakan di luar maka tidak bisa menginput presensi dan jurnal perkuliahan secara online. Mungkin sebaiknya bisa ditinjau ulang dan diperbaiki lagi kelemahan-kelemahan tersebut supaya bisa memudahkan semuanya,” terangnya.

Berbeda dengan yang dikatakan Retma Sari, M.Pd. dosen Prodi PBI FKIP, “Sebagai dosen juga harus bijaksana dalam menghadapi sistem yang baru, jika ada kekurangan harus dipertimbangkan matang-matang. Misalnya saja sistem ini menuntut adanya koneksi cepat internet yang selalu available. Kalau dosen dan mahasiswa sudah disiplin waktu tapi koneksi internet buruk sama saja itu menjadi penghambat proses pembelajaran karena fokus untuk masuk ke sistem online tadi.” Baginya SIMOKUL merupakan konsep pembelajaran dan pengajaran yang menomorsatukan kedisiplinan baik dari segi dosen maupun mahasiswa. SIMOKUL adalah bentuk balancing yang sinergi antara keinginan mahasiwa dan dosen, sehingga target pembelajaran, metode, dan aturan seperti yang diharapkan bisa diupayakan semaksimal mungkin.

Dilihat dari sudut pandang mahasiswa, presensi yang dilakukan secara online dianggap kurang luwes karena hanya terdapat dua pilihan yakni datang dan tidak datang. “Kalau seperti itu jadi susah bagaimana kalau kita sakit atau ijin karena keperluan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan? Jadi semoga saja semester depan bisa diperbaiki ada kolom sakit dan ijin,” ungkap Anggun Fibriya Sari mahasiswa semester 3 PBSI. Selain itu Wahyu Desi Yuliani merasa kasihan dengan dosen-dosen yang dibebani dengan sistem online. “Biasanya dosen yang kurang mampu mengoperasikan teknologi meminta bantuan dari dosen lain, padahal kan tidak selamanya ada orang yang bisa membantu setiap saat, jadi sebaiknya sistem itu dibuat sesederhana mungkin saja.”

Sebagai informasi, dalam sistem tersebut dosen diwajibkan untuk membuka kelas secara tepat waktu dan hanya pada jadwal yang telah diatur. Sistem tidak bisa dibuka ketika dosen tidak ada jam mengajar pada hari tersebut. Pada intinya sistem ini bisa memonitoring keterlambatan waktu membuka atau menutup proses pembelajaran. Presensi mahasiswa yang dilakukan secara online turut mengantisipasi adanya tangan jail mahasiswa yang bisa “titip absen” pada temannya saat presensi manual menggunakan tanda tangan.  Saat proses pembelajaran berakhirpun sistem akan meminta dua mahasiswa yang dipilih secara acak untuk memvalidasi sebagai bukti bahwa perkuliahan tersebut benar-benar telah berlangsung secara nyata. (TP)

Bagikan :

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY