Dosen FKIP Ikuti Pekerti untuk Tingkatkan Kemampuan Mengajar

0
319

Selain sebagai peneliti dan pengabdi kepada masyarakat, dosen memiliki tanggung jawab melaksanakan pembelajaran. Akan tetapi, dosen bukanlah ‘penguasa’ kelas,  dosen diharapkan menjadi fasilitator dan motivator bagi mahasiswa. Oleh karena itu, dosen diharapkan memiliki kemampuan untuk menyajikan pembelajaran yang menyenangkan.

Universitas Tidar mengadakan acara Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti) Dosen Perguruan Tinggi di Kota Magelang pada Rabu sampai dengan Kamis (24 – 25 Agustus 2016) di Hotel Atria Magelang. Acara ini dihadiri 62 dosen dengan rincian 56 dosen dari Untidar dan 6 dosen dari kampus lain di Kota Magelang, seperti Universitas Muhammadiyah Magelang, Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Bina Patria Magelang, dan Akper Karya Bhakti Nusantara Magelang.

“Acara ini akan dibagi menjadi dua metode, yaitu metode tutorial dan mandiri. Metode tutorial dilaksanakan selama 2 hari dilanjutkan dengan tugas mandiri,” kata Ketua Panitia, Drs. Giri Atmoko, M.Si. sekaligus Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan, dan Kerjasama Untidar.

Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dosen dalam hal pengajaran. “Agar terjadi interaksi yang baik di dalam kelas, pembelajaran perlu dikemas dengan membuat perencanaan terlebih dahulu. Diantaranya, menentukan indikator kelulusan mahasiswa,” kata Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd., Rektor Untidar pada saat membuka acara sekaligus mengisi materi tentang sistem, kurikulum, dan pengembangan RPS.

Setiap mata kuliah harus memiliki Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang diturunkan dari SKL program studi dan SKL perguruan tinggi. Kemudian, dosen merumuskan indikator kelulusan untuk mengukur pemahaman mahasiswa terhadap mata kuliah yang diambil.

“Perumusan tujuan pembelajaran harus ditulis dengan kalimat yang jelas yaitu mempertimbangkan aspek ABCD yaitu Audience, Behavior, Condition, dan Degree,” ujar Prof. Dr. Mukh. Arifin, M.Sc., pemateri Tujuan, Desain, dan Metode Instruksional, yang setiap hari berkantor di LPPM Undip, Semarang.

Lebih lanjut, dosen dipacu untuk menjadi dosen idola dengan melaksakanakan pembelajaran yang aktif (active learning). Prof. Dr. Sukarno, M.Si., pemateri Pembelajaran Aktif-Inovatif, yang sehari-hari sebagai Dekan FKIP Untidar ini mengajak para dosen untuk simulasi menggunakan beberapa model active learning, seperti role playing, talking stick, snowball throwing, dan model-model pembelajaran lainnya.

Secara jelas, Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd., mengajak para dosen untuk memilih pendekatan, metode, teknik, strategi, taktik, dan model pembelajaran yang paling tepat berdasarkan materi pembelajaran. “Dosen sebisa mungkin mengupayakan mahasiswa agar aktif di kelas, misalnya dengan mengajukan pertanyaan,” tambah Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd., sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi Untidar.

Sebelumnya, Prof. Ali Munawar, M.Sc., Ph.D., mengungkapkan pembelajaran untuk orang dewasa lebih diperhatikan pada variasi teknik pembelajaran, partisipasi, praktik, dan penekanan karena usia mereka yang sudah cukup matang dengan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya.

Setelah merumuskan RPS, dosen diminta untuk membuat buku ajar. “Saat menulis buku ajar, dosen dapat menerapkan beberapa cara diantaranya menulis, mengemas kembali, atau menata informasi. Buku ajar tersebut dibuat sesuai dengan RPS,” ujar Mukh. Doyin, M.Si., Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang yang memberikan materi tentang buku ajar. Penulisan buku ajar harus disesuaikan juga dengan karakter mata kuliah dan standardisasi bahan ajar.

“Kegiatan Pekerti ini sangat penting dan membantu saya, terutama saat menyusun RPS, RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), dan buku ajar untuk menunjang perkuliahan,” ujar Candradewi Wahyu Anggraini, M.Pd., Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Untidar yang ditemui setelah acara selesai. Selain penyusunan perangkat mengajar, para dosen juga diajari untuk melaksanakan active learning di kelas.

Tidak hanya selesai dua hari itu, Pekerti ini dilanjutkan dengan tugas mandiri dengan tagihan pengumpulan RPS dan laporan praktik mengajar pada 5 September 2016 dan draf buku teks pada 1 November 2016. (WJ)

Bagikan :

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY