Mahasiswa PBSI Untidar Kembali Lolos PHBD

0
265

Hasan Syukron, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Tidar, kembali lolos Program Hibah Bina Desa Tahun 2017. Tahun lalu, Syukron juga lolos kompetisi ini. Kali ini, PHBD yang akan diusulkan oleh timnya berjudul Pemberdayaan Kaum Buruh Serabutan Berbasis Ekonomi Kreatif dengan Sistem Bank Limbah melalui Daur Ulang Limbah Jati Kering menjadi Sepatu Bermotif Tulang Daun yang Ramah Lingkungan di Desa Sidorejo, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang. Dengan program ini, Syukron dan timnya akan mengawal, melatih, dan membina usaha sepatu bermotif tulang daun di Desa Sidorejo yang siap dipasarkan.

Program ini merupakan kompetisi tahunan yang diadakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Dikti (Kemenristeksikti). Alurnya, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti menawarkan kepada organisasi mahasiswa untuk mengikuti PHBD 2017. Kemudian, Hasan Syukron atas nama Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Untidar mengajukan praproposal PHBD. Sekarang, praproposal tersebut telah lolos sebagai proposal yang akan didanai dan lanjut ke tahap presentasi untuk menentukan jumlah dana yang akan diperoleh.

“Presentasi akan diadakan di Hotel HOM Semarang pada 6 – 7 Mei 2017,” tutur Hasan Syukron, mahasiswa semester 4 ini. Tim pada program ini berjumlah 7 mahasiswa, Syukron sebagai ketua. Anita Nur Amalia (PBSI), Umi Mitayani (FE), Septina Tri Huwaida (PBSI), Khusnul Soneta Walah (PBSI), Nuriyanto (PBSI), dan Rega Bagoes Nurvianto (PBSI) sebagai anggota.

“Awalnya, saya mengamati di Desa Sidorejo terdapat 6 hektar pohon jati. Akan tetapi, pohon tersebut hanya dimanfaatkan kayunya, sedangkan bagian lainnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, daun jati bisa dijadikan motif sepatu yang menarik. Oleh karena itu, kami berencana akan menjalankan PHBD di sana. Mulai dari pengenalan, pelatihan, dan pembinaan masyarakat agar bisa memanfaatkan daun jati kering untuk motif sepatu sampai pemasaran dan usaha tersebut tetap berjalan meskipun program telah berhenti. Alokasi waktu program ini 7 bulan dan anggaran yang kami ajukan 45 juta,” tutur Syukron dengan penuh semangat.

“Sebetulnya dana dan kesempatan berprestasi untuk mahasiswa itu selalu ada, asalkan mereka berani untuk keluar dari zona nyaman sebagai mahasiswa biasa. Selain itu, sebaiknya ada dukungan dari universitas untuk hasil dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan PHBD dikelola oleh unit kewirausahaan,” kata Rangga Asmara, M.Pd., dosen pembimbing PHBD tersebut.

Bagikan :

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY