TEFL Days 2018 : Solusi Hadapi Generasi Milenial

0
317

Mahasiswa semester 5 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) beramai-ramai unjuk strategi pembelajaran di Auditorium Universitas Tidar dalam acara bertajuk “TEFL Days 2018”. Acara yang menjadi penanda berakhirnya mata kuliah TEFL (Teaching English as a Foreign Language) ini berlangsung selama dua hari pada Senin hingga Selasa (15-16/1). Acara ini mempunyai salah satu tujuan, yakni untuk membekali mahasiswa bagaimana cara mengajarkan Bahasa Inggris sebagai bahasa asing kepada siswanya kelak. “Tujuan lain dari TEFL Days 2018 ini adalah untuk mendorong mahasiwa melakukan inovasi dalam pembelajaran menggunalan media dan teknologi. Seperti yang kita tau bahwa mereka nantinya akan mengajar generasi milenial sehingga mereka harus melek teknologi untuk mengimbanginya,” ungkap Lilia Indriani sebagai salah satu dosen mata kulaih TEFL. Peserta TEFL Days 2018 menggunakan berbagai media dan teknologi untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang nantinya dapat diterapkan di dunia kerja. Setidaknya terdapat 108 strategi yang dipamerkan dalam acara tersebut.

Mengusung tema Strategies Beyond Galaxy, TEFL Days kali ini berbeda dengan tahun lalu.“Yang membedakan adalah TEFL Days 2018 kali ini menjadi momentum Launching buku karya mahasiswa semseter 5,” tutur Widya Kusumaningrum sebagai salah satu dosen Mata Kuliah TEFL. Buku ber-ISBN  dengan judul “Language Teaching Strategies: How to get students active in the class” ini berisi kumpulan strategi pembelajaran karya mahasiswa PBI semeser 5.  Buku tersebut mendapatkan apresiasi dari Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) disela-sela sambutanya.  “Saya sangat mengapresiasi karya mahasiswa ini, buku ini akan saya sandingkan dengan buku saya dan buku-buku lain karya dosen FKIP di ruangan saya,” ungkap Sukarno, sebagai Dekan FKIP.

Selain dari Dekan FKIP, acara ini juga di apresiasi oleh para dosen FKIP dan pengunjung yang datang silih berganti di Auditorium Untidar. “Para dosen berpendapat bahwa semua peserta memiliki kreatifitas yang tinggi, bisa menciptakan strategi mulai dari permainan tradisional hingga teknologi yang kekinian,” tambah  Widya Kusumaningrum. Selain para dosen, sejumlah guru dan mahasiswa lain yang berkunjung turut menyatakan kekagumanya pada macam-macam strategy yang dipamerkan. “Mereka sangat tertarik dengan strategi, permainan maupun media, terutama yang menggunakan teknologi,” tegas Lilia Indriani. Berbagai strategi yang menggunakan permainan tradisional sebagai medianya, juga turut membuka mata pengunjung bahwa kearifan lokal Bangsa Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai media untuk mengajar Bahasa Inggris. “Banyak yang terinspirasi dari acara ini, ada yang ingin mengaplikasikan strategy ini untuk mengajarkan mata kuliah yang mereka ampu. Ada juga mahasiswa dari kampus lain yang ingin membuat acara serupa. Bahkan para guru dengan semangat mencoba berbagai permainan untuk diterapkan di sekolahnya,” tegasnya lagi.

Acara yang turut dimeriahkan oleh komunitas costplay dan pantomim ini sukses menyita animo pengnjung. “Acaranya inovatif dan menginspirasi. Mungkin saya harus belajar salah satunya untuk diaplikasikan kelak,” tutur Puji Lestari, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia saat berkunjung. Senada dengan Puji Lestari, Widya Kusumaningrum sebagai dosen juga berharap nantinya mahasiswa dapat mengimplementasikanya saat Program Pengalaman Lapangan (PPL). “Diharapkan mahasiswa dapat mengimplementasikan strateginya di kelas-kelas praktik PPL. Sehingga kepercayaan sekolah terhadap Untidar terus meningkat. Selain itu publikasi tahun depan juga harus lebih digencarkan,” tutup Widya Kusumaningrum sebagai dosen PBI.

Bagikan :

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY